Nikmatnya I’tikaf di bulan ramadhan

Iktikaf, i’tikaf, itikaf, kata-kata yang bermakna sama. Dalam tulisan ini saya tidak menjelaskan apa dan bagaimana melakukan iktikaf di masjid. Penjelasan komplitnya, silahkan saja membaca tulisan lama saya  di sini.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa tidak semua muslim memiliki kesempatan melakukan i’tikaf sebagaimana yang dicontohkan Baginda Rasululloh SAW yang selama 10 hari terakhir ramadhan terus-menerus berada di masjid. Sebagian diantara kita memiliki keterikatan akan tugas dan tanggung jawab yang diemban terhadap aturan dan peraturan di lingkungan kerjanya. Kondisi ini mengharuskan kita yang berniat melakukan i’tikaf untuk pandai mengatur waktu secara maksimal antara kerja, istirahat dan i’tikaf. Waktu yang hanya sebentar ini sangat sayang sekali jika terlepas dari genggaman kita, karena pahala yang dijanjikan sungguh sangat luar biasa, apalagi jika kita mendapatkan malam lailatul qadar. Rasululloh SAW sendiri meningkatkan frekuensi amal dan ibadahnya pada sepuluh hari terakhir ramadhan sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadist: “Apabila sudah masuk sepuluh yang terakhir bulan ramadhan, maka Rasulullah bersungguh-sungguh dan sepanjang malam Beliau beramal serta dibangunkannya ahli rumahnya (kaum keluarga)”

Alhamdulillah, meski tidak bisa sempurna menajalan i’tikaf selama 10 hari full, dalam kurun 5 tahun terakhir saya Insya Alloh sudah melakukan i’tikaf.  Sekali lagi, saya tidak bermaksud sumah dan riya’ tapi mengajak pada kebaikan, bukankah kita diharuskan melakukan Fastabiqu khairot, berlomba-lomba dalam kebaikan ?. Dan dalam kurun itu, saya benar-benar menikmati waktu i’tikaf dalam 2 ramadhan terakhir.
Kenapa demikian ?

I’tikaf di masjid dekat rumah
Tahun-tahun awal i’tikaf, saya melakukannya di masjid besar dekat rumah saya. Meski dalam pelaksanaannya saya memperoleh kenikmatan dalam melakukan munajad, ternyata ada beberapa hal yang membuat saya lebih memilih pindah ke masjid Ibadurrahman yang letaknnya lebih jauh dari rumah. Nanti saya ceritakan bagian diakhir tulisan.

Bagaimana i’tikaf di masjid dekat rumah saya ?

  • I’ktikaf di Masjid dekat rumah saya sama dengan pelaksanaan i’ktikaf di masjid lainnya yaitu pada 10 akhir di bulan ramadhan.
  • Sampai dua tahun terakhir, tidak ada ‘peserta’ i’ktikaf yang full berada di masjid.
  • i’ktikaf hanya ramai pada malam ganjil saja, sedangkan malam genap sepi dan hanya beberapa orang saja yang menjalankan i’ktikaf
  • jamaah yang melakukan i’tikaf kebanyakan sudah berusia di atas 35 bahkan banyak yang sepuh. Ada Bapak-bapak dan Ibu-ibu, yang letak keduanya terpisah sehingga tidak bercampur.
  • hampir sebagian diantara yang melakukan i’ktikaf, datang setelah lewat tengah malam sampai pukul 02.00 dan hanya sebagian kecil saja yang bertahan sampai adzan subuh.
  • kondisi masjid dibuat gelap, dengan harapan masing-masing pribadi melakukan munajad lebih khusyu’. Ketaatan yang dilakukan adalah shalat sunnah, dan dzikir, entahlah

Trus, gimana saya melakukan i’ktikaf di masjid ini ?
Awalnya, sayapun mengikuti cara-cara yang dilakukan jamaah lainnya, namun tahun-tahun berikutnya saya tambahkan dengan malam genap. Hingga nggak jarang, ketika malam genap saya hanya sendirian i’ktikaf di dalam masjid.

i’ktikaf yang saya lakukan di masjid inipun nggak full 24 jam x 10 hari. Saya biasanya datang pukul 00.00 WIB dan pulang ketika sahur, selanjutnya ke masjid lagi untuk menjalankan shalat subuh.

Yang saya lakukan selama i’ktikaf di masjid ini, adalah qiyamul lail dan selanjutnya hanya bisa berdzikir dan berdo’a. Padahal, sebenarnya saya pingin sekali mengisi ketaatan di malam i’tikaf ini dengan tilawah. Namun apa daya, jamaah lainnya menginginkan kondisi masjid gelap. Coba kalo seandainya saya hafal Al Qur’an, mungkin akan lebih tepat kalo seandainya membaca Al Qur’an seperti itu. Duh sungguh sangat kurang sekali diri ini.

Lalu, apa nikmat yang sudah saya rasakan ketika melakukan i’tikaf di masjid ini?
Karena di tempat ini adalah pengalaman pertama saya melakukan i’tikaf, alhamdulillah siraman kenikmatan bermunajad dalam bulan ramadhan memberikan makna yang sangat membekas. Apalagi ketika air mata mampu mengalir dalam cinta, membuat tubuh terasa bergetar. Di dalam hati ini terasa lapang, sebuah kenikmatan dalam sakinah.

I’tikaf di Masjid Ibaddurahman
Alhamdulillah, ini adalah ramadhan kedua saya i’tikaf di masjid yang jaraknya dari rumah agak jauh. I’tikaf di masjid ini saya rasakan lebih nyaman dari tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa alasan kenapa saya pindah dalam melakukan i’tikaf:

  • ingin merasakan situasi yang berbeda dari sebelumnya, dan kenyataannya saya malah lebih kerasan dan merasa nyaman.
  • Kondisi masjid sebelumnya yang selalu gelap membuat saya kurang maksimal dalam melakukan tilawah.
  • kondisi lingkungan yang dekat dengan keramaian, apalagi saya merasa terganggu dengan adanya patrol ramadhan keliling dengan menggunakan sound symtem, seperti yang pernah saya tulis di sini.

Bagaimana i’tikaf di masjid Ibadurrahman ?

  • i’ktika dilakukan sepanjang 10 hari terakhir bulan ramadhan, baik ganjil maupun genap tetap dilaksanakan.
  • jamaah yang melakukan i’tikaf mulai dari anak-anak sampai sepuh. Dan hanya laki-laki saja yang melakukannya. Tidak ada wanita.
  • I’tikaf sudah dimulai sejak berbuka puasa, sampai pagi hari. Karena sebagian besar diantara kita, harus menjalankan tugas dan tanggung jawab kesehariannya, sehingga tidak bisa full 24 jam di dalam masjid. Ada juga setelah tarawih pulang, kemudian sekitar pukul 21.00 datang lagi melakukkan i’tikaf sampai pagi hari.
  • Lampu masjid menyala penuh dan tidak pernah dipadamkan.
  • Yang dilakukan di sini lebih bervariatif dari sebelumnya. Namun yang paling banyak dilakukan adalah tilawah, karena bulan ini adalah bulan Al Qur’an dan kita sudah sepatutnya melakukan tilawah sebanyak-banyaknya.
  • Rata-rata, sekitar pukul 23.00 WIB, kita semua tidur di dalam masjid. Hanya ada beberapa diantaranya yang masih mampu melakukan tilawah.
  • Sekitar pukul 01.00 WIB tanpa ada yang mengkomando, semua jamaah bangun. Membersihkan diri, untuk persiapan melakukan qiyamul lail dengan menjalankan shalat tahajud. Shalat tetap dilakukan sendiri-sendiri, kita tidak melakukan shalat tahajjud secara berjamaah.
  • Untuk menjaga agar nggak ngantuk, masjid ini telah menyediakan aneka jenis minuman kopi instan yang siap diseduh sendiri sesuai dengan keingingan. Diantara kita, ketika datang membawa camilan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing untuk menjaga agar perut kita nggak gampang masuk angin.
  • Selesai tahajud, dan dzikir secukupnya, selanjutnya semua tilawah lagi. Ketika masih ada yang shalat, maka kita yang tilawah memelankan suara, dengan karena yang melakukan sholat sedang ‘berkomunikasi’ secara langsung dengan Alloh Ta’ala. Jadi, sebagian tetap tilawah, namun tetap memegang adab yang baik.
  • 30 menit menjelang Imsya’, kita melakukan sahur bersama-sama. Semua sudah disediakan secara gratis. Makan bersama, sungguh sangat nikmat.
  • Selesai makan, membersihkan diri lalu tilawah lagi sampai waktu melaksanakan shalat jamaah subuh yang diawali dengan shalat rawatib.
  • Selepas subuh dan melakukan dzikir al matsurat sendiri-sendiri, kita tilawah lagi sampai waktu fajar. Namun jika ada yang ada kepentingan, ada juga yang pulang setelah subu, ada pula yang tidur lagi karena masih ngantuk. namun kebanyakan melakukan tilawah.

Begitulah, kami melakukan i’tikaf dan mengisi malam 10 akhir ramadhan di masjid. Menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw, dalam rangka pencapaian ketakwaan hambadi  bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah Ta’ala.

Ada banyak kenikmatan yang saya serap selama menjalankan i’tikaf baik di masjid dekat rumah saya maupun yang di masjid ibadurrahman, kenikatan secara personal, kenikmatan secara sosial maupun kenikmatan secara vertikal sebagai upaya mengasah rasa kesadaran imaniyah kepada Allah Ta’ala. Lebih dari itu, i’tikaf ramadhan di masjid adalah salah satu upaya menjaring pahala, khususnya menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.

Wallohu Ta’ala ‘alam bishoshowab
Semoga bermanfaat
#Fastabiqu khairot, tidak bermaksud sumah dan riya’ tapi mengajak pada kebaikan.

Inilah jepretan dari hape, kegiatan i’tikaf di masjid Ibadurrahman:

Nikmatnya melakukan ketaatan, ada yang tilawah, ada yang shalat, ada yang berdzikir dan ada pula yang tidur.

Nikmatnya tidur meski tanpa bantal

Nikmatnya kebersamaan sahur dengan sebungkus nasi hangat

Pakies

Pedagang pasar yang berdomisili di pinggiran kabupaten Blitar. Nekat ngeblog sebagai sarana menjalin silaturahim, belajar berwawasan, serta sarana rekreasi pikiran untuk mendapatkan hikmah di dalamnya

34 thoughts on “Nikmatnya I’tikaf di bulan ramadhan

  1. Suasana spt itu sll membuatku kembali ke masa saat dikampung pak…Tiap Ramadhan, full selama sebulan, biasanya kami yg saat itu msh remaja, tidur di Mesjid, tengah mlm bangun utk tahajud dan tilawah Qur’an..dan hasilnya terasa sekali di akhir Ramadhan, kita bisa merasakan kesedihan karena ditinggalkan bulan Ramadhan..dan skrg ternyata aku belum sampai kembali ke maqom spt yg pernah kurasakan dulu, msh bnyak yg perlu diperbaiki..Tks share-nya nggih pak..

    • Begitu juga dengan jaman kecil saya Kang, langgar/surau adalah satu-satunya tempat berkumpul dan hiburan yang paling utama sebab jaman itu belum ada listrik dan tipi, semua masih alami. Hampir tiap malam tidur di langgar, dan malam ramadhan selain nderes ngaji juga patroli kampung make obor. seru banget
      Hanya saja saat itu saya belum memahami apa itu i’tikaf

  2. Keren banget nih! Di musholla mepet rumah nderes sampe jam 10 habis itu pada pulang ke rumah masing2. Kalo di masjid aku gak tau. Soalnya jam habis tarowih aku harus mengerjakan order yg bejibun banyaknya ini. hehehehe..

    • memang kebanyakan masjid dan musholah, nderes sampai jam 10 malam terutama yang memakai TOA. Dan di tempat saya i’tikaf, nderesnya nggak pakai TOA, nggak disiarkan ke publik jadi tidak membuat lingkungan jadi “ramai’, tetapi ramai memakmurkan masjid.

  3. di mesjid lingkungan saya tinggal belum ada yang mengadakan i’tikaf full, yang ada juga qiyamil lail shalat witir jam 02.30 ampe jam 03.00 wib

    • ada teman saya yang benar-benar niat, selama 10 terakhir dia meninggalkan semua pekerjaannya dan pergi “mondok” sementara di salah satu pesantren di Malang. Saya sangat salut akan niat luar biasanya, semoga menjadi inspirasi kita semua

  4. dulu aku ke mesjidnya cuma siang doang e, pakies…
    adem bener buat ibadah merem sambil nunggu buka
    kapan yo bisa jadi orang baik dan benar.?

  5. saya belum juga bisa manjalankan i’tikaf Mas. masalah keamanan jadi pertimbangan utama.

    • sayang nggih Kang kalo keamanaan lingkungan masih belum terjamin.
      Perkara ibadah, Insya ALloh yang penting kita melakukan tilawah, dzikir dan kebaikan yang dicontohkan Rasululloh SAW di rumah Insya Alloh juga mendatangkan banyak pahala

    • malah lebih nikmat lagi kalo masjidnya jauh dari rumah Kang. Soalnya niat kita memang benar-benar beribadah, bukan karena sungkan pada orang lain karena kita mepet dengan masjid

    • semoga Kang Iskandar semakin bersemangat untuk mendulang pahala ramadhan, apalagi sekarang ada penambah semangat dalam hidup dengankehadiran Mbak EL

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, Pakies….

    Subahanallah walhamdulillah. Besar sekali cinta Pakies untuk mengikut sunnah Rasulullah SAW dan para sabahah dalam mengisi 10 terakhir Ramadhan. Mudahan ganjaran yang besar dikurniakan buat segala amal dan niat yang murni bagi memenuhi kecintaan di bulan Ramadhan ini.

    Saya tidak tahu apakah di Masjid Sarikei ada mengadakan iktikaf di Masjid pada 10 terakhir. Cuma yang saya ketahui apabila di= akhir-akhir Ramadhan, jemaah semakin kurang untuk memakmurkan masjid. Selesai Terawih, masjid jadi lengang dan kosong. Tidak ada acara sahur di sana. Wallahu’alam.

    Mudahan amalan iktikaf di masjid pada 10 akhir Ramadhan akan menjadi rutin tahunan Pakies dan saudara-saudara seIl=slam di sana. Didoakan Pakies sihat dan diberi tenaga yang banyak untuk melakukan iktikaf dan lain0lain ibadah. Aamiin.

    Salam Ramadhan yang mulia dan salam hormat dari Sarikei, Sarawak. :D

    • Amiin, semoga ini menjadi kebaikan yang bisa kita amalkan sampai akhir hayat kita. Sayapun mendo’akan kebaikan untuk Mbak Fatimah sekeluarga agar di bulan ramadhan ini mendapatkan limpahan kenikmatan dalam menjalankan perintah Alloh Ta’ala yang dicontohkan Nabi besar Muhammad SAW

  7. nah ini nih yang perlu saya ingat ingat dan contoh, soalnya dari dulu saya tidak pernah i’tikaf, di kampung asal saya saya jarang menemui orang i’tikaf, atau karena memang rumah saya jauh dari masjid ya, hehe.
    baru pada saat kost di surabaya kok banyak orang i’tikaf sampai nginep di masjid, ternyata itu amalan yang dilakukan saaat i’tikaf..
    terima kasih atas tutorial i’tikafnya kang, saya salut dengan niat kang JP

    • saya mendo’akan semoga Cak Agus bisa menjalankan i’tikaf kapanpun sampai akhir hayat, agar bisa menyerap dan menikmati betapa ada banyak kebaikan yang kita dapatkan dari aktivitas ini. Dan luar biasanya, messki kita kurang istirahat dan kurang tidur kalo i’tikaf yang kita jalankan benar-benar tulus mengharap ridho Alloh, maka kita Insya Alloh ditempat kerja nggak masuk angin, nggak sakit malah merasa lebih sehat.
      nggak percaya ? coba buktika

  8. Pingback: Nglindur

  9. assalamualaikum.wr.

    senang bisa duduk di sini menikmati tulisan2,,Pakies.
    pengalaman spiritual yang patut ditiru ,mudahan bisa nular ke saya..

    salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

CommentLuv badge

Archives

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner