Jimpitan

Jimpitan, tradisi lokal yang sekarang sudah lama nggak saya temukan. Ingatan terbuka kembali saat menyaksikan salah satu program yang ditayangkan Antara TV yang mengangkat budaya jimpitan di desa Sri menanti, yang berjarak sekitar 200 km dari Bandar Lampung. Desa ini berada di daerah terpencil dan berbatasan langsung dengan hutan lindung bukit rigis. Dari tayangan tersebut, warga yang sebagian besar berpenghasilan dari perkebunan kopi ini, mayoritas berasal dari Jawa, Sunda, Bali dan Madura.

Jimpitan beras, budaya guyup rukun hambangun projo

Jimpitan beras, budaya guyup rukun hambangun projo

Tradisi jimpitan yang dilakukan warga sri menanti dilakukan setiap hari kamis dengan menyetor beras sebanyak satu cangkir atau sekitar 250 gr. Awalnya, cara jimpitan beras ini dimaksudkan untuk jaga-jaga agar tidak ada warga yang kekurangan beras untuk kebutuhan sehari-hari. Maklum, mereka rata-rata mengandalkan hasil kopi yang panen setahun sekali.

Setelah berjalan beberapa tahun, rata-rata pertahun beras yang dikumpulkan mencapai lebih dari 500 kg.  Bahkan dengan cara jimpitan ini, mampu mengumpulkan uang hingga mencapai lebih dari 50 juta. Beras dan uang ini dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan warga. Uang bisa dipinjam anggota untuk berbagai keperluan seperti modal usaha, bayar sekolah dan kepentingan mendadak lainnya. Mereka mengembalikan dengan jangka waktu satu tahun.

Dampak positip dari tradisi jimpitan ini sangat terasa, karena perekonomian warga semakin membaik, anak-anak bisa sekolah sampai jenjang perguruan Tinggi. Bahkan mereka mampu membangun infrastruktur perbaikan jalan dan penerangan. Benar-benar kehidupan guyub rukun hambangun projo.

Dulu, di kampung saya di lereng timur semeru tradisi jimpitan ini pernah ada, namun sekarang sudah nggak ada lagi. Dulu jimpitan beras diperuntukan memberi tunjangan dan tambahan untuk petugas keamanan desa. Setiap rumah harus menyediakan sejimpit beras yang diletakkan di depan rumah mereka sebulan sekali. Yang ngambil petugas keamanan desa, ketika berpatroli malam. Dan kenyataannya, tugas para penjaga keamanan bisa dilakukan dengan baik. Dan sekarang tradisi itu sepertinya sudah tidak ada lagi.

Konsep jimpitan beras juga dilakukan beberapa ibu rumah tangga. Waktu saya SMA, punya ibu kos yang melakukan tradisi ini secara pribadi. Yang beliau lakukan adalah, mengambil beras beberapa jimpitan setiap kali melakukan persiapan menanak nasi. Misalnya hari ini masak beras setengah kilo, maka dari takaran yang sudah ada, beliau mengambil satu genggam beras yang ditempatkan pada wadah terpisah. Cara seperti ini sudah beliau lakukan atas saran orang tuanya. Kenyataannya, setiap akhir bulan beliau nggak pernah kekurangan beras. Bahkan dengan cara jimpitan seperti ini, beliau bisa menekan biaya pengeluaran uang belanja.

Dulur, apa yang dilakukan warga Sri Menanti, dan Ibu Kos SMA saya adalah salah satu bentuk upaya yang positip dalam memanajemen kebutuhan sehari-hari. Konsep inipun sebenarnya bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam banyak hal, yang prinsipnya adalah mengurangi ‘jatah’ pengeluaran untuk disimpan sebagai sarana jaga-jaga keperluan mendadak di luar perhitungan kita. Atau bisa dilakukan dalam bentuk lain yaitu melakukan penghematan. Memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan kebutuhan, dan bukan berdasarkan keinginan. Apalagi yang namanya keinginan, nggak pernah terbatas. Terkadang kita akan menyadari setelahnya, ternyata apa yang kita inginankan, sebenarnya nggak selalu kita butuhkan.

Mari kita bersama-sama mencoba melakukan jimpitan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pakies

Pedagang pasar yang berdomisili di pinggiran kabupaten Blitar. Nekat ngeblog sebagai sarana menjalin silaturahim, belajar berwawasan, serta sarana rekreasi pikiran untuk mendapatkan hikmah di dalamnya

44 thoughts on “Jimpitan

    • wah bagus sekali tuh Kang. Manfaat dari jimpitan ini bukan hanya menyerap prinsip hemat, juga mengakrabkan jalinan silaturahim dengan sesama warga

    • Seperti di tanyangkan Antara TV, manajemen sistem jimpitan ini benar-benar transparan dan dikelola bersama-sama. Tata tertib yang diberlakukan pun mudah diterima anggotanya sehingga kalopun ada anggota yang minjem uang, nggak memberatkan. Bahkan meneurut mereka, dengan cara seperti ini kebanyakan warga bisa bebas dari jeratan rentenir dan sistem ijon

  1. Wis ora enek kang. Biyen sih enek dan sudah menjadi tradisi yg guyub rukun. Tapi untungnya tanpa tradisi jimpitan, lingkungan sekitarku kene jik saling sapa, msaling main ke rumah tetangga, tapi itu untuk penduduk lama, sing penduduk anyar yo cuek gak gelem membaur.
    ndop recently posted..Berkembang Ala SayaMy Profile

    • Koyoke tradisi borjuis kapitalis wis merengsek kemana-mana sampe ke kampung kecil. Meskpun kelihatannya sepele, akan tumbuh menjadi hal besar jika ada pendatang baru nggak mau berbaur dengan warga lokal

  2. di kampung saya sudah nggak ada Pak Ies, tapi setiap kumpulan RT, diwajibkan bayar uang beras…sebagai ganti jimpitan…kalau dulu bayar beras, sekarang uang aja…lebih praktis. tapi ya itu tadi, tradisinya jadi ilang, nggak ada lagi yang muter ngambil beras dari rumah ke rumah…padahal asyik loh, jadi semakin erat tali silaturahmi antarwarga
    khusna khairunnisa recently posted..Ada yang Takut Angka EmpatMy Profile

    • banyak hal saat ini yang keberadaannya diukur dan diganti dengan uang, padahal dengan cara seperti ini nggak berarti menyebabkan lebih baik. Karena ada hal yang hilang di dalamnya

    • Kalo ada yang gampang ngutang dan tidak mengikuti prosedur yang sudah ditentukan bagaimana cara melunasinya, tentu menyebabkan yang bersangkutan nggak mungkin bisa bertahan di kelompoknya dan nggak mungkin diperbolehkan ngutang lagi karena ini uang kelompok

    • kalo giganti uang, aromanya jelas jadi lain Kang. Satunya aroma uang, satunya aroma beras hhh tapi bukan itu maksud saya, ada nilai-nilai sosial yang luntur di dalamnya

  3. wh ide keren tuh, harusnya dibudidayakan lagi ya Mas! jangan hanya di daerah tapi di kota besar juga, melihat banyak masyarakat yang banyak kekurangan secara ekonomi, namun masalahnya apakah masih ada yang bisa dipercaya untuk mengelolanya? sedangkan raskin saja sudah banyak yang dikorupsi, seperti di daerah dekt saya, wallahu A’lam bishowb!
    Siti Aisah recently posted..Tips Simpel Yang Oke Banget!My Profile

    • saya rasa di perkotaanpun bisa dilakukan seperti ii Mbak, apalagi masih cukup banyak kita temukan kondisi lingkungan RT yang masih guyup rukun ditengah hiruk pikuknya kemandirian kota

  4. Jimpitan…positif sekali, mungkin setara dengan yang kemudian diajarkan oleh pengelola-pengelola keuangan untuk selalu menyisihkan tabungan diawal sebelum uang terpakai untuk kebutuhan bulanan…

    Oh ya..sepertinya pernah nonton di berita tentang tradisi semacam jimpitan ini, hasil jimpitannya(berupa hasil pertanian apa saja dari warga) dipakai untuk Qurban saat Idul Adha.. Tabungan untuk Kendaraan Akhirat ^^
    Irly recently posted..DamaiMy Profile

    • bener sekali, ini kebiasaan sosial yang sederhana , namun sebenarnya merupakan dasar manajemen keuangan yang baik jika diterapkan

    • mungkin karena lingkungan Kang Naufal yang belum mempraktekannya, dan ditempat lain sepertinya masih jalan kok seperti komentar sahabat saahabat di atas

    • jimpitan itu bahasa jawa yang kurang lebih artinya mengambil sedikit. Sak jumput, sak jimpit itu setara dengan mengambil sesuatu dengan tiga jari tangan

  5. setelah lulus smp, tradisi itu mboten wonten lagi.
    di kampung kulo dicanthelaken di pintu pake kaleng kecil, biasanya diambil sekalian waktu siskamling muter kampung.
    met tipitas kangmas
    mugi sehat sumringah selalu disana :)

    • sama Kangmas, ditempat saya, dulunya dicentelkan make kaleng bekas susu, atopun bekas cat dan diisi beras serelanya dan yang ngambil para petugas keamanan

      alhamdulillah sehat, semoga demikian dengan njenengan sehat dan dilmpahkan banyak kemudahan

  6. jimpitan sederhananya seperti nabung dan menghemat ya pak Ies… walau sedikit penghematan disana sini tapi insya Allah dampaknya besar juga… :-)

    assalamu’alaikum Pak ies.. apa kabar..? semoga sehat selaluuu…

    oiya pak ies… Al-Qur’an yg dari Pak Ies dulu itu jadi Qur’an yg saya baca sehari2 loh… krn punya saya dibawa adik saya ke Medan… alhamdulillah bangettt… sedikit2 bs belajar kata2 baru pula :-D

    • wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh Mbak Lyliana
      Alhamdulillah saya ikut bersyukur jika Al Quran itu memberikan kemanfaatan untuk kita semua, Semoga kita semua dimudahkan untuk mencintai Al Qur’an

  7. jimpitan di mojokerto di ganti dengan duit seratus ruppiah pak.
    dulu di desa asal saya juga ada jimpitan beras satu gelas tapi sekarang sudah tidak jalan.
    Masalah pengambilan pelajaran dari jimpitan ini saya malah jadi ingat bahwa penghasilan berapapun akan habis, entek, telas. Kalau disisihkan pasti ada hasilnya, entah itu untuk sodawoh atau disimpang.
    agus setya recently posted..Ingatan Tentang BanjirMy Profile

    • wah mosok gur satus repes Cak ?, lha wong harga beras sekilo saja 8000 lebih ? hhh kenemenen iku jenenge .

      Makanya kalo ada uang lebih di dompet, mending disisihkan dan dimasukan ke celengan make jagak bambu di rumah hhh

  8. Wah sudah lama juga aku gak lihat ada jimpitan lagi.
    Padahal jimpitan itu menunjukkan kerukunan dan kegotongroyongan ya sebenarnya? Sayang sekarang sudah jarang sekali daerah yang masih melakukan aksi jimpitan ini.
    catatan kecilku recently posted..“Mencicipi” BPJSMy Profile

  9. kula datang kemari karena lihat senyum kang mas pakies yang khas dan ngangenin pas sanjan di blognya mas agus, hehehe

    btw,, ditempatku sampa sekarang jimpitan juga masih berjalan kangmas,, tapi walau rondanya tiap malam,, jimpitannya dibayar sebulan sekali.. karena para peronda dah pada malas keliling, hehe

  10. Di kampung saya pernah ada tradisi jimpitan, tapi itu sudah lama pas Sd dulu, kurang lebih 1995 an, namun sekarang sudah tidak ada lagi, padahal banyak segi positifnya, perlu digerakkan lagi kayaknya

  11. Dari sejimpit jadi sebukit ya Pak Ies.
    Budaya luhur yang hingga kini masih hidup di banyak wilayah dengan modifikasi kekinian. Di lingkungan kami masih ada meski diganti dengan jimpit duwit, dengan mengumpulkan uang bagi warga ‘rawatan’.
    Salam
    prih recently posted..Senandung Serunai GunungMy Profile

  12. Saya pernah dengan istilah ini …
    kalau tidak salah waktu saya kuliah … pernah membahas mengenai sistim gotong royong ini …
    waktu itu kami mempelajari Sosiologi Pedesaan …

    Saya tidak tau apakah sekarang masih ada atau tidak di kalangan seputaran kampung rumah saya …

    yang saya tau … jimpitan beras ini di ganti dengan uang …
    saya lihat para pedagang di sekitar kampus anak saya … ada yang melakukan tradisi ini …
    ada orang yang ngider dan menariki uang … bukan untuk biaya keamanan atau yang sejenisnya …
    ini untuk keperluan koperasi mereka katanya

    salam saya Pak Ies

  13. Dulu di kampungku ada tradisi jimpitan pak, namanyapun sama. Tapi skrg sepertinya sudah berganti, padahal banyak nilai positif yg diambil ya pak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

CommentLuv badge

Archives

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner