Do’a dan Ziarah Haji

Hujan bertambah deras, Trimo dan Warso mengurungkan niatnya berlari pulang. Keduanya  duduk merapat di serambi surau menahan dingin. Hanya tinggal tiga orang, termasuk Abah Abdullah yang masih menyelesaikan dua rakaat rawatib ba’da isya. Sementara jamaah lainnya sudah meninggalkan surau sebelum hujan turun.

“Kok hanya berdua, kemana Daslam tumben ndak kelihatan sejak magrib tadi?” Suara yang lembut berwibawa muncul dari bilik surau memecahkan obrolan Trimo dan Warso

“Ohh Abah sudah selesai shalatnya. Siang tadi, Daslam sekeluarga, ke rumah Pamannya di kampung sebelah” Jawab Warso

“Sekeluarga  ?”

“Iya Abah, kan besok Pamannya pulang dari Tanah Suci” Trimo memberikan penjelasan.

“Besok ya datangnya, Alhamdulillah, saya kira masih seminggu lagi. Pasti mereka repot mempersiapkan penyambutan. Apalagi tradisi di daerah kita, menyambut kedatangan haji sangat luar biasa. Bukan hanya keluarga, dan sanak sodara, kebahagiaan itu juga dirasakan warga setempat.

“Tahun lalu saja, Haji Syafii penyambutannya mirip seperti resepsi pernikahan” Kata Warso

“Tentu membutuhkan biaya yang banyak” sahut Trimo

“Bahkan ada yang pernah ngomong, bisa jadi biaya penyambutan hampir sama dengan biaya pemberangkatan haji” Warso ndak kalah bersemangat

“Itu kan tergantung keluarga yang bersangkutan, mau dibikin biasa ato dibikin luar biasa. lha wong ndak ada ketentuan yang mengharuskan seperti itu, iya kan?

“Inggih Bah… terkadang saya berpikir, kenapa ziarah kedatangan haji lebih ramai dibandingkan dengan keberangkatan haji ?”  Trimo mencoba membuat pertanyaan

“Pernah saya dengar, Haji yang baru datang dari Tanah Suci diiringi 40 Malaikat, sehingga jika kita minta barokah do’a, Insya Alloh mudah diterima, benarkah itu Abah ?”Belum sempat Abah Abdullah menjawab, Warso sudah menambah dengan satu pertanayaan lagi.

“Abah juga seringkali mendengar anggapan seperti itu, tetapi selama ini Abah mencari berbagai kitab, belum pernah ketemu dasar yang menguatkan anggapan itu. ”

“Kalo ndak ada dasar dan riwayatnya, berarti itu Fathul Lisan ya Bah ?

“Apalagi maksute Mo ?

“Berdasar ‘katanya’ …”

“Entahlah, wallahu a`lam bish-shawab. Menurut Abah pribadi, kalo minta do’a kenapa nggak nitip saja ketika mereka hendak pergi ke tanah suci”

“Nitip do’a, maksudnya gimana Abah ?”

“Iya, coba kalian pikir. Kalo memang Haji yang baru datang dari Tanah Suci itu diiringi 40 Malaikat, lebih terkabul mana kalo do’a itu disampaikan di Tanah Suci ?”

“Ya di sana ” jawab Trimo

“Kenapa demikian Abah ?” Warso penasaran

“Coba kalian ingat, betapa banyak kejadian-kejadian luar biasa yang dialami jamaah haji di sana. Dan dari banyak cerita, sebagian besar berdo’a di sana gampang sekali terkabulkan.

“Subhanalloh …”

“Kenapa doa mereka gampang dikabulkan.  Ada banyak faktor, pertama, dari masing-masing pribadi, mereka ke sana dalam rangka perjalanan ibadah. Insya Alloh semua diniatkan semata-mata mencari ridho Alloh. Mereka ikhlas mengeluarkan harta benda, tenaga dan pemikiran semata-mata memenuhi Panggilan-Nya. Kurang lebih 40 hari melepaskan diri dari kehidupan duniawi, hati mereka benar-benar penuh dengan santapan ruhani yang tiada tara indahnya. Ketertundukan atas perintah Alloh mencapai puncaknya”

“Subhanalloh … trus yang berikut apa Abah ?” Trimo merasa penasaran

“Di Tanah Suci Mekah dan Madinah, terdapat tempat-tempat yang mustajabah. Tempat yang diistimewakan, dan do’a mudah terkabulkan. Tentu saja do’a tersebut adalah do’a kebaikan dan bukan untuk memutus silaturrahim. Tempat-tempat yang tidak pernah sepi dari orang berdo’a seperti di Hajar Aswad, Multazam, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail dan di bawah Talang Emas, ketika minum di area Zamzam, Shafa, dan Marwah areal Sa’i. Selain itu, juga Jabal Rahmah, Arafah ketika wukuf, Mudzalifah ketika mabit, Jamarat Mina, serta Raudlah di Masjid Nabawi Madinah.

“Wah ternyata sangat banyak ya Bah, tempat-tempat yang mustajabah”

“Apalagi di dukung faktor nilai pahala sholat di Masjdil Haram yang 100.000 kali lipat, juga di Masjid Nabawi yang 1.000 kali lipat dibandingkan di tempat lain. Tentu, semua doa yang dipanjatkan akan jauh sangat bermakna”

“Terus, bagaimana dengan mendo’akan orang lain, apalagi dengan titip do’a seperti yang Abah sampaikan tadi” Tanya Trimo agak kritis

“Bahkan kalo kalian dimudahkan ke Tanah Suci, Insya Alloh Amin, do’akan saja orang-orang yang kalian kenal, ndak usah nunggu titipan. Karena mendo’akan kebaikan untuk orang lain, apalagi tanpa sepengetahuannya adalah perbuatan mulia, sebagaimana disampaikan sahabat Abu Ad-Darda’,  Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

“Kalo begitu, kita terlambat ya Abah ?

“Terlambat gimana maksudmu ?

“Lha sekarang kan jamaah haji sudah pulang ke tanah air, padahal saya pingin minta di do’akan di Tanah Suci

“Ya ndak ada kata terlambat, kan masih ada tahun-tahun berikutnya. Lagian, kita minta do’a mereka yang baru datang kan ndak ada yang melarang.

“Kalo gitu kita besok ziarah haji ke rumah paman Daslam ” Warso bersemangat

“Tujuannya perbaikan gizi, apa minta di do’akan ? Tanya Trimo menggoda sahabatnya

“Ya dua-duanya…” lalu Warso mendekati telinga Trimo sambil berbisik

“saya pingin di do’akan, agar Divna luluh hatinya”
????


Pakies

Pedagang pasar yang berdomisili di pinggiran kabupaten Blitar. Nekat ngeblog sebagai sarana menjalin silaturahim, belajar berwawasan, serta sarana rekreasi pikiran untuk mendapatkan hikmah di dalamnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

CommentLuv badge

Archives

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner