Kala Berteduh di Kuburan Tua

Keranjang rumput belum penuh benar, tiba-tiba gelegar di langit menyambar. Butiran hujan makin besar memaksa Mamat dan Amin segera berlari mencari tempat berlindung. Sebenarnya tempat terdekat adalah pondok di sawah Pak Dhe Sugeng, namun karena keberadaan pondok paling tinggi posisinya, kedua remaja ini mengurungkan niatnya karena takut tersambar petir. Satu-satunya tempat berteduh yang lebih aman adalah kuburan tua di kampungnya. dan keduanya pun bergerak menuju sana dengan membawa setengah keranjang rumput hasil masing-masing.

Beberapa kuburan nampak memiliki bangunan yang mirip dengan pondok, bahkan adapula yang dikeramik dengan ornamen-ornamennya. Entah apa tujuan dari keluarga waris membuat hiasan-hiasan di kuburan kerabatnya. Namun demikian kebanyakan dari yang ada, sama sekali tidak ada bangunan apapun, hanya dua nisan yang terbuat dari kayu tapi nampak bersih.

Amin dan Mamat memilih bangunan yang lebih aman dari hujan maupun sambaran petir. Keduanya memeluk lutut masing-masing sambil menahan dingin. Beberapa saat, mereka terlarut ke dalam pikiran masing-masing.

“Min, lihat yang sebelah barat itu” Kata Mamat sambil menununjuk ke arah kuburan yang masih baru

“Itu kan makam Mbah Paidjo yang dikuburkan kemarin” jawab Amin

“Insya Allah Mbah Paidjo saat ini sedang berada pada kenikmatan kubur” jelas Mamat sambil menyelonjorkan kakinya, kesemutan.

“Kok kamu ngerti, memangnya kamu bisa menerawang ke alam kubur?” tanya Amin

“ya ndak to Min, khan hal-hal ghaib hanya Allah yang mengetahuinya”

“Trus kamu ngerti dari mana?”

“Kan meninggalnya Mbah Paidjo tepat hari jum’at. Menurut Abah Kyai Abdullah, siapa yang meninggal hari itu akan terbebas dari fitnah kubur” jelas Mamat percaya diri

“Kok ada fitnah kubur segala, Bukankah fitnah lebih kejam dari pembunuhan?, kan mayit itu sudah mati kok dibunuh, memangnya siapa tukang fitnah di sana” Amin bertanya tanpa henti

“ha ha ha …. jangan Kowe samakan dengan kehidupan ini to Min. Arti fitnah itu kata Mbah Kyai adalah sejumlah pertanyaan kubur pada mayit tentang Rabbnya, Nabinya dan Agamanya. Pertanyaan ini merupakan ujian, karena jawaban yang dikeluarkan si mayit tergantung pada amalannya selama di dunia. Nah kalo jawabannya salah, tentunya azab yang akan diterima”

“Wuiks kamu sok tahu Mat, kayak Mbah Kyai saja” timpal Amin sambil menyandarkan badannya ke keranjang rumput.

“Ya ndak sok tahu, tapi mendengarkan pemamparan Mbah Kyai selesai shalat subuh. Makanya dengarkan jangan molor saja si surau” sindir Mamat. Namun Amin tetap mesem sambil sesekali memejamkan mata mengusir penat

“Kamu kan tahu sendiri kalo Mbah Paidjo orangnya penyabar, selalu shalat berjamaah walaupun datang dengan tertatih-tatih, malamnya selalu dihiasi dengan qiyamul lail dan walaupun beliau orang pas-pasan, sedekahnya itu yang selalu dinomersatukan” lanjut Mamat

“iya ya … kurang apalagi Mbah Paidjo, kayaknya kehidupan dunianya seperti sudah berada di surga” sahut Amin

“Semoga Mbah Paidjo sekarang menikmati buah yang telah ditanam selama hidupnya ya Mat. Kenikmatan yang akan dirasakan sampai kiamat”

“Trus bagaimana dengan orang yang di azab di dalam kubur, apa juga sampai kiamat?” tanya Amin

“Insya Allah ya Min, bahkan pintu neraka akan diperlihatkan bagi yang benar-benar durhakan pada Allah”

“berarti mayit yang telah meninggal dan durhaka sejak 5 tahun lalu sudah diazab selama 5 tahun ya Mat” tanya Amin sekenanya

“bisa jadi, nanti kita tanyakan saja pada Mbah Kyai” Jawab Mamat

“ngaku juga akhirnya kalo kowe ndak paham”

“khan lebih baik ngomong apa adanya to daripada mengada-ngada” Mamat berkilah

“Kasihan ya, apalagi kalo kiamatnya 50 tahun lagi atau 1000 tahun lagi, berarti harus mendapat azab terus menerus selama itu kali ya Mat”

“entahlah…. aku jadi bergidik membayangkannya”. jawab Mamat lirih

Sesaat kedua remaja tanggung ini berada pada pemikiran masing-masing. Sementara hujan tidak menampakan tanda-tanda reda. Angin semilir dan hawa dingin menyebabkan mata keduanya mengantuk berat.

Angin dari arah selatan ternyata membawa serta bau wangi dari taburan bunga di atas tanah kuburan yang basah. Amin agak merinding tetapi berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

“Dhuarrrrr ……. !!!!” petir menyambar bangunan paling megah di kuburan bagian atas. nampak jelas salah satu tiang yang terbuat dari marmer hancur berkeping-keping, diiringi kepulan asap menghitam. Tanpa pikir panjang Amin dan Mamat lari terbirit-birit …

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *