Dua Suara Dalam Samudera Hati

Ternyata, dada ini masih sempit. Hati yang seharusnya seluas samudera, menyisakan sebilik ketidak ikhlasan. Sepertinya hanya setetes, namun serasa memenuhi milyaran sel di dalamnya. Padahal, bertahun-tahun dengan susah payah dan perjuangan kubangun dari kubangan kecil.

Malam kemarin, mata ini beradu tatap dengan sepasang mata yang beberapa waktu lalu sempat membuat kesempitan hati semakin menghimpit. Cipratan emosi mewarnai segelas hati. Indera mata menangkap stimulasi wanita semampai dengan baju lorek hitam, mirip abaya. Benar-benar penampilan yang berbeda. Padahal, sebelumnya ia hanya dengan hijab yang ala kadarnya. Hanya menutup kepala dan rambut, sementara bagian bawahnya seolah tidak memakai pakaian karena membentuk tubuhnya dengan sempurna. Justru dengan kondisi seperti inilah, yang membuat hatiku bertarung berhari-hari. Tidak pernah saya berpikir untuk mempermalukannya, ketika saya mengatakan padanya, “Kamu berpakaian hijab, tetapi masih telanjang” .

Aku berharap, ia memaknai dengan indah maksud kalimat yang saya sampaikan dengan pelan, tepat di dekat telinganya. Namun, tanpa di duga tangannya yang selama ini terasa lembut dipundakku, seketika menghempaskan tubuh kurusku. Akupun oleng, dan terjerembab. Bukan hanya itu, ia mengeluarkan aneka macam cacian yang mengelupaskan harga diriku di depan puluhan pasang mata. Dan segera aku melepaskan diri menjauh darinya. Menerobos gelapnya hati sampai aku tidak tahu lagi bagaimana cara melangkahkan kaki.

Dan setelah sekian lama, kini sosok itu tepat di depan mataku, dan ada yang berbeda darinya. Sepasang tangan itu melambai, mencoba merengkuhku. Dalam waktu seper nol koma nol nol entah berapa nolnya, stimulasi dari sosoknya menjalar melalui milyaran dendrit yang bertebaran pada indera mata menuju sistem syaraf pusat. Ketika hendak diterjemahkan dalam bentuk senyuman dan anggukan kepala, ternyata ada sisi penghalang di dalamnya . Kekuatan yang luar biasa yang mendorong dari sisi gelap.

“Ngapain kamu tersenyum pada orang yang telah mendholimi kamu”

“Mendholimi apa maksudmu ? kan permasalahannya sudah clear. Kami sudah saling menerima dengan baik?

“Kapan itu terjadi ? Apakah ia pernah meminta maaf atas semua yang telah terjadi ?”

“Entahlah. Aku sudah menganggap semua tidak pernah terjadi”

“Cobalah kamu ingat bagaimana tatapan mata kemenangan yang ia lemparkan padamu saat itu. Menebarkan pesona ejekan yang menyisakan bekas sesak di dadamu berhari-hari”

”Tapi kan dia punya alasan melakukannya ?”

“Ha .. ha .. ha … betapa naifnya kamu. Kamu tidak bisa menangkap apa yang seharusnya kamu rasakan. Kamu sebenarnya dipihak yang diperdaya. Ia telah mampu memperdayamu dan membalikkan keadaan sehingga seolah kamulah yang bersalah. Padahal, sebenarnya justru dialah yang pantas menerima ketidaknyamanan hidup. Ayolah … kamu jangan menjadi cengeng, tinggalkan dia menjauhlan darinya. Biarkan ia merasakan gimana hati tersakiti didepan orang banyak.

“Tidak, aku tidak ingin menghapus kenikmatan yang sudah aku rasakan. Aku tidak akan membuang energi yang untuk perkara kecil seperti ini”

Pertarungan sangat hebat antara dua suara dalam kurun waktu yang super sangat singkat. Aku harus membuat sebuah keputusan. Antara pembenaran atau penyangkalan. Antara suara hati dan suara kegelapan. Dua suara yang selalu bertarung.

Dan tanpa ragu lagi, respon dan penerjemahan yang dilakukan sistem syaraf pusat mengalir bagaikan air bah membanjiri setiap sel tubuh ku. Sebagaian ada yang menuju ke ujung kaki yang membuatku melangkah semakin mendekat. Sebagian lagi respon itu menuju raut wajah dengan mengespresikan wajah yang terbuka. Sebagian lagi menggerakkan kedua tanganku, memeluk erat tubuhnya. Aku merasakan terkumpulnya kepingan hidup yang sempat hilang.

Dan tanpa diduga, ia membisikan “Maafkan aku ya sayang, tempo hari telah membuat sayatan luka pada dirimu. Aku lah sebenarnya yang salah, jadi ikhlaskan semua ini agar tidak menjadi beban dalam persahabatan kita. Insya Alloh mulai hari ini aku akan mengubah semua kebiasaanku dalam berpenampilan”

Aku merasakan tetesan sejuk yang mengalir mengenai pipi dan jilbab panjangku. Samudera yang luas telah terbentang di depan mata. Setetes noda itu tiada artinya ketika terpercik di dalamnya. Karena kelapangan dada meleburkan semua sisi gelap, menjadi ikatan silaturahim yang tak bisa terjelaskan dengan kata-kata biasa, Subhanalloh sahabatku telah kembali dalam pelukan yang syar’i.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *