Akhir yang indah

Dalam kurun kurang lebih 30 menit, saya tenggelam dalam suasana kesedihan mendalam yang dirasakan seorang ibu sebut saja Fulanah. Tangisannya merobek keheningan IGD sebuah rumah sakit di Blitar. Semua yang ada di tempat itu terdiam membisu, kerabatnya menenangkan dengan berbagai upaya, namun tetap saja kesedihan dalam raungan itu tetap berlangsung.

Saya memaklumi, sebab Beliau nggak pernah menyangka harus ditinggalkan orang yang sangat dicintainya dalam waktu yang sangat cepat. Kebetulan saat itu saya sedang membezuk di tempat yang sama, dan kejadian detik demi detik bisa saya rekam dengan baik.

Kenapa saya maklum ? lha wong sebut saja Pak Fulan datang ke IGD rumah sakit berjalan seperti biasa, nggak ada tanda-tanda lain kecuali muka kelihatan pucat saja. Bahkan kebetulan saya ada di dekat situ masih bisa menyaksikan bagaimana dengan lancarnya Pak Fulan menjawab pertanyaan petugas di IGD.

Setelah memenuhi standart penanganan IGD, dari rekam jantung sampai persiapan infus untuk rawat inap, pak Fulan siap di bawa ke ruang inap. Sebelum siap dipindahkan, Pak Fulan mengatakan kok rasanya ‘mumet’. Selanjutnya beliau berbaring miring sebentar. Dan ketika membetulkan posisinya, terdengar suara beliau yang cukup lantang “Astaghfirulloh Allohu Akbar” dan saat itu juga arwah beliau dijemput Malaikat dalam keadaan ada senyum terungging di sudut bibirnya, diusia sekitar 60 an. Subhanalloh. Sontak, bu Fulanah menjerit histeris hampir 30 menit di ruang ini.

Degup jantung sayapun ikut berdetak menyaksikan peristiwa yang luar biasa ini. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, kalimat yang tidak sempurna saya ucapkan karena terasa kering kerongkongan ini. Sebuah kematian yang Insya Alloh indah, tanpa harus melewati proses sakaratul maut yang panjang. Kematian yang tidak merepotkan orang lain serta masa tua yang tidak dipenuhi ujian menuju kematian.

Dari percakapan yang terjadi diantara kerabat yang datang, sebelum di bawa ke rumah sakit, Pak Fulan hanya mengeluh kedinginan di sekujur tubuhnya. Dan yang diupayakan istrinya adalah dengan membaluri minyak kayu putih di sekujur tubuhnya. Namun tidak ada perubahan, karena yang dirasakan pak Fulan semakin lemas, dan bagian tubuh beliau semakin terasa dingin jika di pegang. Akhirnya, beliau di bawa ke rumah sakit hingga detik yang mengharukan itu.

Meski belum mengenal dengan jelas, sosok yang sudah terbujur itu berpenampilan sederhana namun bersih. Dua buah bekas sujud menghiasi wajahnya yang bersih, seolah terpancar sebuah perjalanan hidup yang dihiasi upaya-upaya mengumpulkan bekal untuk kehidupan kampung akhirat.

Tercenung saya “menikmati” sebuah akhir yang indah. Sebuah perjalanan yang bisa dijadikan cermin, jalan apa yang sedang saya bangun dalam kehidupan ini. Dan bagaimana saya akan mengakhiri kehidupan ini. Tentu tidak mudah mendapatkan akhir yang indah seperti yang dialami pak Fulan. Karena akhir yang semacam ini adalah perkara yang ghaib, tergantung bagaimana kita membangun proses yang akan menyimpulkan akhir hidup kita. Apalagi di kala sakaratul maut, adalah masa ujian yang sangat berat, ada fitnah besar di sana karena kematian ini merupakan awal dari kehidupan yang sebenarnya.

Semoga Alloh Tabarokta wa Ta’ala, memberikan kemudahan dalam segala urusan hidup kita di dunia dan kehidupan di akhirat dengan membawa bekal keshalihan, melalui akhir yang indah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *